Dari Festival ke Warkop Sharelock: Saat Ari Lesmana Lebih Jujur dari Walikota Parepare

Oleh: Cornelius Dehata

“Nada yang salah tetapi dimainkan dengan niat yang benar jauh lebih baik daripada nada yang benar tetapi dimainkan tanpa jiwa.” Artur Schnabel, 1934

Parepare selalu ingin dikenal sebagai kota cinta. Patung Habibie dan Ainun dipahat seindah mungkin, tangan mereka saling menggenggam, wajah menua yang abadi dalam tembaga dan temaram lampu taman kota. Tapi cinta yang baik bukan yang dipatungkan, melainkan yang dipraktekkan. Dan kota ini, di bulan Mei 2025, justru jatuh cinta pada wajah buruk intoleransi. Dinobatkan sebagai kota paling tidak toleran se-Indonesia oleh Setara Institute, Parepare mendadak kehilangan puisi. Tertinggal hanya ironi, getir, dan yang paling menyakitkan kebingungan dari sang Wali Kota.

Ketika ditanya soal predikat “paling intoleran,” H. Tasming Hamid menjawab, “Saya bingung.” Kalimat pendek itu langsung menjelma semacam monumen baru, yang bahkan lebih jujur dari patung Habibie-Ainun. Sebab itulah paradoks Parepare hari ini: cinta ada di taman, tapi bingung di kebijakan. Kota ini mematungkan kesetiaan, tapi lupa merawat keberagaman. Ia membangun festival cinta, tapi menutup mata dari luka sosial yang terus dibiarkan bernanah.

Skor Parepare di Indeks Kota Toleran (IKT) 2024 hanya 3,945 terendah dari 94 kota yang disurvei. Dan ini bukan perkara angka. Ini adalah nyanyian sumbang dari kota yang konon religius, tapi lebih sibuk menjaga seragam ketimbang merangkul warna. Salah satu indikator penilaiannya: regulasi intoleran, kurangnya perlindungan kelompok minoritas, lemahnya aksi nyata merawat keberagaman. Dan tentu saja: diamnya negara ketika hak dasar warga diinjak-injak oleh massa berbendera iman.

Masih segar dalam ingatan: penolakan terhadap Sekolah Kristen Gamaliel. Bukan karena sekolah itu ilegal, bukan karena ia menebar kebencian, tapi semata-mata karena ia memakai nama yang tak akrab di lidah mayoritas. Ketika seorang tokoh ormas berkata Parepare bisa dibuat seperti Poso, tak satu pun aparat atau pejabat berdiri dan berkata, “Cukup.” Ancaman kekerasan dijadikan opini sah, seolah kota ini sudah kehilangan alat ukur etika.

Warga pun bingung, seperti Pak Wali. Tapi beda. Warga bingung kenapa janji “Kota Cinta” berubah jadi lorong gelap diskriminasi. Sedangkan Pak Wali, bingung kenapa predikat buruk baru muncul sekarang. Mungkin beliau lupa: jadi pemimpin bukan soal sejak kapan, tapi soal ke mana. Karena membela hak sipil tak mengenal masa jabatan. Ia urusan nurani. Dan kalau pun bingung, janganlah kelamaan. Karena korban intoleransi tak pernah diberi waktu untuk sekadar “bingung”.

Yang tak bingung justru para mahasiswa. Jaringan Oposisi Loyal (JOL) dan AMPASTI muncul dari balik senyap kota, membawa orasi dan poster yang lebih tajam dari kata-kata sambutan wali kota. Mereka tak menyuarakan iman, mereka menyuarakan hak. “Parepare Darurat Intoleransi,” kata mereka. “Anak-anak Gamaliel bukan anak tiri republik ini.” Di tengah kebingungan struktural, mereka memilih jadi suara tegas: bahwa cinta sejati adalah keberanian untuk memeluk yang beda.

Tapi kota ini sibuk mempercantik taman dan mengatur festival. Pembangunan jadi parade estetika tanpa etika. Jalan mulus, tapi nurani bolong. Parepare boleh punya lampu warna-warni, tapi selama hak warganya terganjal stigma, itu semua hanya tata panggung tanpa naskah. Religiusitas dijadikan label, bukan nilai. Visi kota dijual dalam baliho, tapi tak pernah sampai ke peraturan daerah. Dan dalam panggung ini, minoritas dipaksa berperan sebagai penonton yang sopan atau ditarik turun sama sekali.

Habibie pernah berkata, “Demokrasi itu menghormati perbedaan.” Tapi Parepare hari ini justru memaksa keseragaman atas nama harmoni. Demokrasi dikebiri menjadi sekadar suara mayoritas, padahal tugas pemimpin adalah menjamin ruang aman untuk yang minoritas. Pak Wali boleh berdalih belum genap 100 hari menjabat. Tapi luka kota ini tak lahir 100 hari lalu. Ia tumbuh lama, karena pembiaran, karena ketidakberanian, dan karena kebingungan yang dipelihara.

Andai Pak Wali benar-benar ingin memahami rasa sakit warganya, undang saja Ari Lesmana ke Lapangan Andi Makkasau. Suruh nyanyikan “Mangu” di depan tribun lapangan biar beliau tahu rasanya “jalan sendiri, cari sendiri, peluk diri.” Karena begitulah nasib warga minoritas di Parepare. Dibiarkan menjauh, dituduh membawa ancaman, dan dijadikan alasan untuk berkhotbah tentang ketakutan. Mungkin “Saya Mangu” lebih jujur dari “Saya Bingung”. Karena mangu itu ragu tapi masih merasa, sedang bingung kadang cuma alasan untuk tak bertindak.

Parepare bisa berubah. Tapi perubahan tak lahir dari taman yang rapi. Ia lahir dari keberanian pemimpin memeluk warganya satu-satu, tanpa syarat agama atau nama belakang. Kota cinta tak bisa dibangun hanya dari monumen. Ia butuh kebijakan yang adil, ruang publik yang aman, dan sikap politik yang tak gamang. Dan kalau Pak Wali masih terus bingung, maka tugas itu akan diambil alih oleh mahasiswa, oleh warga, oleh siapa saja yang masih percaya bahwa cinta sejati itu inklusif. Karena kota ini bisa saja jatuh ke dasar survei, tapi jangan sampai jatuh ke dasar nurani

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita Terbaru