Antropologi Idul Adha

Oleh: Fahrul Dason (Ketua Umum BEM FAI Unismuh Makassar

Idul Adha, sebagaimana yang kita tahu bersama, bukanlah ritual yang hadir tiba-tiba. Ia berakar dari kisah agung dalam tradisi Islam—saat Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Tuhan untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai ujian ketaatan dan pengorbanan. Namun, tepat sebelum pisau menyentuh leher sang anak, Tuhan menggantikan Ismail dengan seekor domba. Di sinilah akar dari ritual kurban yang kita kenal hari ini: peristiwa itu bukan hanya penyembelihan hewan, melainkan penyembelihan ego, kepemilikan, dan kesombongan duniawi.

Namun, dalam masyarakat kita hari ini, perayaan Idul Adha telah menjelma menjadi peristiwa sosial yang jauh lebih kompleks dari sekadar peringatan spiritual. Hal ini dapat dilihat menggunakan kacamata antropologi, seperti yang ditawarkan oleh Arnold van Gennep, seorang antropolog Prancis yang banyak menyoroti ritual-ritual kebudayaan masyarakat yang ia sebut sebagai ritus peralihan.

Maka, Idul Adha juga adalah contoh nyata dari ritus peralihan, di mana sebuah mekanisme budaya yang mengantar individu atau kelompok masyarakat dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya.

Van Gennep membagi ritus peralihan ke dalam tiga tahap: pemisahan, ambang (liminalitas), dan penggabungan kembali. Kita bisa melihat tahap pemisahan itu dimulai sejak hari-hari menjelang Idul Adha. Fenomena-fenomena kecil bermunculan: misal saja ada yang mulai berpuasa sunnah, ada yang mulai menyortir katalog baju baru, bahkan ada yang berencana mengenakan baju couple bersama pasangannya, seakan-akan hendak menyucikan cinta lewat fashion Islami. Sebagian lainnya memilih jalan-jalan, atau bahasa gaulnya healing sambil memantau harga sapi lewat aplikasi digital.

Semua fenomena ini seringkali terjadi di masyarakat sebagai gejala sosial yang menandai: kita sedang “berpindah”, atau proses peralihan dari kehidupan sehari-hari ke ruang sakral bernama Idul Adha. Ketika hari H tiba, atau sudah memasuki Idul Adha masyarakat masuk pada fase liminalitas—sebuah ruang ambigu antara profan dan sakral.

Di sinilah kita menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban. Namun, seperti yang pernah dicermati oleh Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java, praktik keagamaan dalam masyarakat bukanlah sesuatu yang tunggal dan seragam. Geertz melihat agama bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan sistem simbolik—di mana setiap ritual dan lambang keagamaan memiliki makna yang bisa ditafsirkan berbeda tergantung pada latar sosial dan budaya pelakunya.

Lalu, dalam buku babon tersebut Geertz membagi masyarakat Muslim Jawa ke dalam tiga kategori kultural: santri, abangan, dan priyayi—sebuah tipologi yang meskipun bersifat lokal, tetapi masih relevan secara pendekatan untuk membaca dinamika ritual keagamaan umat Islam Indonesia secara lebih luas.

Pertama, kaum santri adalah mereka yang memaknai Idul Adha secara serius sebagai ekspresi iman dan ketaatan. Bagi kelompok ini, penyembelihan hewan kurban bukan hanya rutinitas ibadah, tapi bentuk konkret dari solidaritas sosial dan spiritualitas yang mendalam—seperti santri yang tekun di pesantren, mereka menjadikan kurban sebagai wujud ketaatan total kepada Tuhan.

Kedua, berbeda halnya dengan kaum abangan, yang lebih memandang Idul Adha secara pragmatis dan sekuler. Bagi mereka, momentum ini adalah peluang untuk terlibat dalam kegiatan sosial, seperti menjadi panitia kurban, tukang sembelih, atau sekadar mendapatkan bagian daging. Nilai religiusnya nyaris tereduksi menjadi nilai guna—yang penting ada aktivitas, ada hasil.

Ketiga, ada kaum priyayi—yang dalam konteks modern bisa dikaitkan dengan kelas birokratis, elit politik, atau kaum profesional berpendidikan tinggi—cenderung menjadikan Idul Adha sebagai panggung simbolik. Kurban bukan lagi perihal pengorbanan, tapi pertunjukan gengsi. Seekor sapi jumbo yang disumbangkan difoto dari segala sudut, diunggah ke media sosial, disertai caption panjang tentang keikhlasan, dan tentu saja—senyum merekah di depan kamera drone. Ini bukan lagi soal ibadah, tapi pencitraan sosial-politik, atau seperti yang kita lihat hari ini, gaya populisme religius yang memanfaatkan simbol-simbol Islam untuk menopang kekuasaan.

Poin yang saya sampaikan bahwa dengan membaca Idul Adha melalui kerangka Geertz ini, kita dapat melihat bahwa ritual yang sama bisa dimaknai secara sangat berbeda, tergantung pada posisi sosial, latar budaya, dan kepentingan simbolik dari masing-masing kelompok. Dan di situlah ritual keagamaan seperti Idul Adha menjadi arena yang bukan hanya spiritual, tapi juga kultural dan politis.

Idul Adha: Kurban dan Kuasa

Di tengah kerumunan kelas menengah ke atas yang menunaikan kurban sambil memamerkan kekayaan, muncul dinamika kekuasaan. Maka, di sinilah kita bisa meminjam pandangan Anthony Giddens yang menyoroti bagaimana struktur sosial tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu diciptakan dan direproduksi melalui tindakan sosial—termasuk melalui ritual. Dalam kerangka Giddens, ritual keagamaan seperti Idul Adha bukan sekadar praktik ibadah, melainkan mekanisme simbolik untuk membentuk dan meneguhkan struktur sosial, otoritas, dan legitimasi.

Tak jarang kita melihat pejabat atau politisi yang mendadak religius di hari raya. Mereka menyumbang sapi atas nama partai, tampil di masjid dengan senyum penuh kasih, dan tentu saja—berswafoto bersama panitia kurban. Tapi di balik retorika ibadah itu, mereka sedang mengatur ulang relasi sosial agar publik tetap percaya pada kehadiran mereka sebagai “pemimpin umat”. Giddens menyebut hal ini sebagai bagian dari duality of structure—di mana kekuasaan dan tindakan berlangsung dalam lingkaran yang saling menguatkan. Artinya, kurban bukan lagi sebatas amalan, melainkan juga strategi untuk mempertahankan kekuasaan dalam lanskap sosial-politik.

Sementara itu, masyarakat bawah menjalani ritual ini dengan cara yang berbeda—lebih jujur, lebih sederhana. Ada yang menyisihkan sebagian pendapatannya selama berbulan-bulan demi seekor kambing kecil. Ada pula yang hanya berharap dapat bagian daging, entah dari siapa. Tapi di sinilah ironi itu muncul: daging kurban tidak selalu sampai ke tangan yang seharusnya. Ada warga yang mendapat dua plastik penuh, ada pula yang hanya menerima tulang dan lemak. Solidaritas sosial yang seharusnya merata, justru kadang dibajak oleh logika patron-klien, atau bahkan oleh distribusi yang berbasis relasi kuasa dan gengsi.

Dalam konteks masyarakat hari ini, Idul Adha juga menjadi ajang bagi ironi yang getir sekaligus lucu. Sapi kurban bisa menjadi alat tawar-menawar politik, bahkan dalam beberapa kasus dijadikan alat “kampanye sunyi” untuk memberikan legitimasi moral kepada masyarakat. Legitimasi ini—meminjam istilah Giddens—bekerja melalui refleksivitas modernitas, di mana tindakan-tindakan simbolik digunakan untuk membentuk persepsi dan relasi kekuasaan. Ketika para priyayi modern ini membutuhkan bantuan, masyarakat yang pernah bersinggungan dengan “kebaikan” mereka merasa berkewajiban untuk menolong, seolah ada utang moral yang ditanam secara simbolik.

Lain sisi, bagi mereka yang di perantauan memilih menjual bagian daging kurban untuk “modal balik kampung” —sesuatu yang mungkin terasa salah, tapi sangat bisa dipahami jika melihat realitas ekonomi sebagian orang. Dalam situasi seperti ini, agama dan ekonomi saling berkelindan. Ritual keagamaan menjadi ruang di mana ketulusan dan keterpaksaan berjalan berdampingan.

Idul Adha yang seharusnya mengajarkan keikhlasan, kepekaan sosial, dan kerelaan berkorban, kini seringkali terperangkap dalam budaya pertunjukan. Nilai-nilai suci tenggelam di tengah pencitraan, kamera, dan selebrasi simbolik. Tapi kritik terhadap fenomena ini bukanlah bentuk sinisme terhadap agama. Justru, ia adalah bagian dari usaha untuk menjaga agar makna spiritual tetap hidup dan tidak tergerus oleh logika pasar dan kekuasaan.

Pada akhirnya, Idul Adha adalah cermin. Ia memperlihatkan siapa kita, apa yang kita sembelih, dan untuk apa. Apakah kita menyembelih ego dan keserakahan, atau justru menyembelih makna sejati demi pencitraan?

Idul Adha kini bukan sekadar tindakan religius, melainkan sebuah drama sosial—seperti yang dikatakan Giddens—di mana struktur sosial dipentaskan secara simbolik dan berulang, dan setiap kelas serta kelompok menampilkan dirinya masing-masing.

Jika kita mampu melewati ritus ini dengan kesadaran, maka mungkin, setelah fase liminalitas itu, kita bisa benar-benar sampai di tahap terakhir yang diungkapkan Van Gennep: integrasi kembali ke masyarakat—bukan hanya sebagai individu yang lebih religius, tapi sebagai manusia yang lebih sadar atas ketimpangan dan kuasa yang selama ini tersembunyi di balik sebilah pisau kurban.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita Terbaru