Raja Ampat Surga yang di koyak atas nama pembangunan

Oleh: Sri Wahyuni Akil (Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unismuh Makassar)

Ketika kita membayangkan surga, seringkali pikiran kita melayang pada keindahan yang tak terjamah, kedamaian yang abadi, dan kekayaan alam yang melimpah. Bagi sebagian besar dari kita, gambaran itu begitu nyata di Raja Ampat. Gugusan pulau-pulau di ujung timur Indonesia ini adalah mahakarya alam, rumah bagi keanekaragaman hayati laut yang tak tertandingi di muka bumi. Di sinilah, jutaan spesies ikan menari di antara koral-koral sehat, penyu raksasa berenang anggun, dan manta ray meluncur bebas, menciptakan simfoni kehidupan bawah laut yang memukau setiap mata yang memandang.

Raja Ampat adalah anugerah, sebuah permata yang tak ternilai.

https://images.app.goo.gl/Yooo4jhykazgZMGM7
Sumber Gambar

Namun, bisakah surga ini benar-benar terancam? Ironisnya, ancaman terbesar justru datang dari tangan yang seharusnya menjaga: pemerintah. Dalam narasi pembangunan ekonomi, pemerintah mengalihkan pandangan pada pertambangan. Sumber daya alam di bawah bumi Raja Ampat, yang selama ini menjadi fondasi ekosistem laut yang kaya, kini dibidik sebagai lahan eksploitasi. Alih-alih melestarikan, kita justru dihadapkan pada prospek kehancuran demi keuntungan sesaat.

Kita bicara tentang pembangunan ekonomi. Pembangunan seperti apa yang mengorbankan keindahan abadi dan keberlanjutan ekosistem demi laba jangka pendek? Apa artinya kemajuan jika surga kecil di ufuk timur ini, yang telah menjadi rumah bagi begitu banyak spesies dan sumber mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat lokal melalui pariwisata, perlahan lenyap? Populasi laut yang kaya, yang menarik wisatawan dari seluruh dunia dan menjadi tulang punggung ekonomi berkelanjutan di Raja Ampat, kini terancam hilang. Air yang dulunya jernih dan biru kini berisiko tercemar, terumbu karang yang menjadi jantung kehidupan laut akan mati, dan suara riuh alam akan digantikan oleh deru mesin tambang.

Keputusan ini adalah perampasan. Ini adalah pengkhianatan terhadap keindahan alam yang tak ternilai, dan terhadap generasi mendatang yang berhak menyaksikan keajaiban Raja Ampat. Kita tidak bisa membiarkan “surga” ini hanya menjadi cerita di buku sejarah. Sudah saatnya kita bersuara, menuntut agar kebijakan yang lebih bijaksana diutamakan. Ekonomi bisa dibangun dengan cara yang lestari, tanpa harus merampas surga kecil yang telah dianugerahkan pada kita. Raja Ampat bukan hanya sekadar lahan tambang, ia adalah jantung keanekaragaman hayati dunia, warisan yang harus kita jaga, bukan di biarkan hancur dengan dalih perputaran ekonomi bangsa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita Terbaru