Muhammad Farchan: Dari Nilai Kejujuran hingga Sebuah Harapan Politik Muhammadiyah

Oleh: Fahrul Dason 

Dalam catatan panjang perjalanan kaderisasi di Muhammadiyah, tak jarang kita menemukan kenyataan pahit: kader-kader yang begitu militan, begitu setia, justru kerap berakhir tanpa hasil yang sepadan. Bahkan, tak sedikit yang tak menemukan hasil sama sekali.

Tentu ini bukan semata kesalahan dari sang kader. Bukan pula kegagalan militansi yang ia bangun bertahun-tahun. Barangkali, ini lebih karena lemahnya pemetaan organisasi dalam membaca dan menempatkan setiap potensi kader yang ada. Sebuah masalah struktural yang diam-diam mengakar, tapi jarang kita akui.

Di sisi lain, kita hidup di era yang berbeda: era postmodernisme, di mana globalisasi kerap hadir dengan wajah neoliberalisme yang menempatkan individu sebagai pusat. Fenomena individualisme bukan terjadi secara alamiah, melainkan dibentuk oleh sistem yang lebih besar—kapitalisme global, yang kini menjelma dalam balutan neoliberal.

Namun, di tengah arus besar itu, kader Muhammadiyah tetap dituntut hadir. Ia ditantang untuk memberi dampak di setiap lini: entah ia memilih jalan sebagai politikus, sebagai da’i, atau sebagai akademisi. Menjadi kader bukan hanya soal identitas, tetapi tentang keberanian untuk berkiprah, untuk bertahan di medan yang kadang tak ramah.

Salah satu sosok yang menarik di antara diaspora kader itu adalah Muhammad Farchan. Seorang kader Muhammadiyah yang kini mengukir jejaknya di dunia politik. Farchan saat ini tercatat sebagai anggota DPRD Jawa Tengah dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Namun, Farchan bukan sekadar politikus. Dalam setiap langkahnya, ia membawa identitas kemuhammadiyahan yang lekat. Ia berpolitik bukan hanya demi kursi, tetapi juga untuk menyalurkan nilai-nilai yang ia serap sejak lama.

Dalam sebuah wawancara, Farchan menegaskan satu prinsip yang tak pernah ia tinggalkan: kejujuran. Prinsip inilah yang menjadi pijakan di setiap langkah politiknya. Sebuah prinsip yang mungkin terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit dijaga dalam dunia politik yang penuh kompromi.

Seperti kader lain, Farchan juga banyak belajar dari tokoh-tokoh Muhammadiyah. Ia mengagumi Ir. Soekarno—seorang sosok yang baginya bukan hanya proklamator, tetapi juga role model dalam berpolitik. Kekaguman itu bukan sekadar pada simbol, tetapi pada keberanian Soekarno dalam merumuskan gagasan dan mengambil sikap.

Di tengah politik yang sering gaduh, langkah Farchan mengingatkan kita bahwa masih ada harapan. Bahwa politik tidak harus kehilangan moralitas. Bahwa seorang kader, di mana pun ia berada, tetap bisa menyalakan nilai—meski kecil, tetapi menyala.

Perjalanan Farchan adalah pengingat, bahwa menjadi kader bukan hanya soal organisasi, tetapi juga tentang keberanian untuk jujur, untuk bersikap, untuk tetap membawa harapan, meski di jalan yang terjal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita Terbaru