Oleh: Fahrul Dason
Di tengah keramaian perkotaan hari ini, ketika melihat sebuah salon tampak tak lebih dari tempat membetulkan poni, memperbaiki bentuk kuku, atau menghilangkan jerawat dengan sentuhan tulisan promo, “facial bebas komedo”. Namun, dibalik semua itu jangan salah, dalam sejarah, salon pernah menjadi ruang yang jauh lebih bergizi secara intelektual ketimbang pernyataan para politisi hari ini. Di mana salon secara substansial menjadi tempat gagasan besar dilahirkan, pemberontakan direncanakan, dan solidaritas dibisikkan di balik cermin.
Jauh sebelum ada eye cream dan keratin treatment, salon muncul pertama kali di Italia pada abad ke-16 dan berkembang di Prancis sepanjang abad ke-17 hingga 19, dan salon saat itu semacam “kelas filsafat premium”. Tokoh-tokoh seperti Rousseau dan Voltaire pernah diundang “nongkrong” di sana. Tapi bukan sembarang nongkrong: mereka berdiskusi tentang rasionalisme, agama, hingga hak asasi. Uniknya, yang mengatur “acara” itu bukan dosen, tapi perempuan yang bernama Madame de Staël, dan Madame Geoffrin—mereka ini seperti “moderator intelektual” yang membuat salon jadi ruang publik sebelum kafe eksistensial dan kampus radikal lahir.
Sedangkan di Afrika abad-19, salon dan tempat pangkas rambut tidak hanya menyediakan layanan perawatan. Ia juga menjelma menjadi tempat fungsi sosial yang lebih unik bagi warga kulit hitam untuk menunjukkan resistensinya terhadap isu penting di masyarakat. Salon saat itu memberikan tempat khusus bagi pelanggan untuk bermain catur, kartu, dan domino, sambil mengobrol tentang gosip lokal, politik, dan berbagai urusan masyarakat.
Sejarawan seperti Dena Goodman dalam The Republic of Latters (1994) memberi pernyataan tak main-main, bahwa, ruang publik itu disusun oleh salon, pers, dan lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Bahkan, filsuf terkemuka Mazhab Frankfurt seperti Jurgen Habermas, menyebutkan bahwa salon memainkan peran penting sebagai ruang publik (publik sphere) yang muncul untuk melawan narasi dominan atas respon kultural-politik dari masyarakat istana—salon saat itu adalah ruang di mana perempuan punya kuasa, bukan atas negara, tapi atas wacana. Bayangkan, di saat perempuan belum banyak menempuh pendidikan tinggi, mereka justru jadi produser diskusi para filsuf. Kalau kata Benedetta Craveri dalam The Age of Conversation (2005), menyebut mereka ini menjadikan percakapan di salon itu sebagai kekuatan politik lunak. Di tengah dunia maskulin yang sibuk dengan pedang dan tahta, para perempuan di salon memilih kata-kata sebagai strategi perlawanan yang luar biasa terhadap budaya patriarki.
Lalu, sejarah kemudian bergeser, di abad-20 dunia dilanda perang, diktator di mana-mana. Tetapi salon tetap hidup. Di Uni Soviet, misalnya, ketika segala yang kritis dicekal, salon jadi ruang sembunyi untuk menggosip dan bertukar cerita terhadap hal-hal yang tak bisa dibicarakan di ruang publik. Hal ini dicatat dalam buku David Greaber berjudul Bullshit Jobs (2018), Greaber menyebut tempat seperti ini—yang katanya “tak produktif”—sebenarnya menjadi tempat pertukaran ide dan keluhan yang paling jujur. Walau birokrasinya kaku, tapi orang tetap butuh tempat curhat dan menyusun strategi hidup. Salah satunya di salon.
Tidak hanya itu, Svetlana Alexievich, penulis asal Belarus dan pemenang Nobel Sastra tahun 2015, bahkan menceritakan bagaimana dapur dan ruang sempit jadi tempat bisik-bisik dan bertukar rahasia pasca-Soviet. Meski tak menyebut salon secara eksplisit, melalui Secondhand Time (2016), Alexievich telah berhasil membangun imaji kita. Bahwa, salon bisa dipahami sebagai bagian dari jaringan ruang intim yang lebih jujur daripada mimbar negara. Rambut dipotong, tapi juga luka dibagi.
Namun, itu semua berubah ketika kita memasuki era neoliberalisme dan ekonomi konsumsi—salon mulai dipaksa tunduk dan dijinakkan pada logika pasar. Sekarang lihatlah salon lebih mirip showroom tubuh. Tempat di mana standar kecantikan global dikerjain dalam bentuk paket “glow up 5 in 1”. Naomi Wolf bilang dalam The Beauty Myth (1990), bahwa kecantikan itu bukan cuma estetika—melainkan alat kendali.
Ketika iklan shampoo masuk di Indonesia, imajinasi kita semua berubah tentang standar kecantikan—harus lurus, hitam, berkilau, dan anti badai. Meike Lusye Karolus dalam esainya di Jurnal Perempuan juga merekam hal yang sama, Meike waktu itu menceritakan pengalamannya di tahun 2009, ketika ia berkunjung ke kota Ambon, ia kaget melihat perempuan-perempuan di sana tak lagi memiliki rambut keriting, bahkan tantenya, sebab terlalu keseringan rebonding, terpaksa mengharuskan ia memakai rambut palsu, atau wig. Ini dikarenakan rambutnya sudah mulai rontok habis. Dan, tanpa disadari kondisi ini seiring waktu melunturkan identitas tubuh dan budaya mereka. Susan Bordo juga menambahkan, tubuh perempuan itu sering kali dikonstruksi menjadi teks yang terus diedit oleh media, iklan, dan fitur kecantikan di kamera HP demi kebutuhan pasar.
Di era ini, salon bukan lagi tempat berpikir, tapi tempat “meluruskan” tubuh. Pelurusan literal maupun simbolik. Semakin rapi rambutmu, semakin sesuai juga tubuhmu dengan standar pasar, dan semakin kecil kemungkinan kamu bikin gaduh. Rambut boleh warna apapun, bahkan model mullet sekalipun. Tapi, isi kepala harus tetap patuh.
Namun, di sisi lain perlu diingat juga bahwa, tubuh selalu punya cara untuk melawan. Di Jakarta Timur, misalnya, Salon Transpuan hadir sebagai ruang aman. Di sana, rambut bukan cuma dibentuk, tapi juga diceritakan. Luka bukan ditutupin concealer, tapi dibagikan. Menurut riset yang dimuat dalam Jurnal Perempuan, salon semacam ini bukan cuma ruang kerja, tapi juga ruang solidaritas dan eksistensi.
Hal serupa juga muncul di banyak kota kecil, di pinggiran Makassar atau Bandung, barbershop-barbershop sederhana menjadi ruang kolektif para pekerja kreatif jalanan. Mulai dari para muralis, tukang tato, pecinta kopi, anak skateboard, dan anak punk. Sederhana saja, mereka bercakap tentang harga bahan pokok, musik metal, baju thrift, bahkan politik elektoral—semua ini dibalut dalam suasana santai sambil bercukur. Pengamatan serupa juga muncul dari KUNCI Cultural Studies, yang kini bernama KUNCI Study Forum and Collective yang sejak 1999 menjadikan rumah kolektif di Yogyakarta sebagai ruang informal untuk diskusi, eksperimen, dan solidaritas komunitas: ini membuka cara lain untuk memahami salon dan barbershop sebagai ruang resistensi mikro terhadap dominasi kota.
Ariel Heryanto pernah bilang, di Indonesia budaya populer itu tak pernah polos. Selalu ada tarik-menarik antara kenikmatan dan kontrol. Maka ketika salon makin mewah, kita harus bertanya: ini ruang ekspresi atau ruang pengepakan ulang tubuh biar pas di feed Instagram?
Salon, dengan kata lain, tetap hidup. Tapi maknanya terus berubah. Dulu tempat elite bikin filsafat, sekarang tempat rakyat kecil mengobrol sambil cukur. Dulu tempat perempuan memperluas pikiran, sekarang tempat queer dan minoritas memperluas ruang hidup. Dan pada akhirnya, salon itu tetap cermin. Tapi bukan cuma buat lihat poni. Salon adalah cermin sosial. Di sanalah kita bisa bertanya: ini tubuh milik kita, atau milik algoritma dan standar pasar?



