Makassar, Gasingpedia.com — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., menitipkan pesan filosofis kepada para wisudawan agar tidak melupakan orang-orang yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.
Pesan itu disampaikan Hamdan saat memberikan sambutan pada Wisuda Angkatan ke-121 UIN Alauddin Makassar yang mengukuhkan 750 wisudawan program D3, S1, S2, dan S3 tahun akademik 2026/2027 di Auditorium Kampus UIN Alauddin, Samata, Selasa (15/9).
Di hadapan para wisudawan, Hamdan mengajak mereka untuk "bermain peran" dengan satu pesan utama yang disebutnya sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.
"Pesan saya adalah: jadilah sarjana anak tangga," kata Hamdan.
Menurutnya, istilah "sarjana anak tangga" menggambarkan seseorang yang memahami bahwa kesuksesan dalam kehidupan tidak dicapai secara instan. Setiap orang harus melewati tahapan demi tahapan kehidupan untuk mencapai puncak yang diinginkan.
"Untuk sampai ke puncak, sampai ke atas, mencapai kesuksesan, pastilah kita melalui beberapa anak tangga kehidupan," ujarnya.
Hamdan kemudian mengajak wisudawan melihat perjalanan hidup mereka sendiri. Tidak ada seseorang yang sejak lahir langsung menjadi mahasiswa dan kemudian sarjana.
Setiap orang harus melewati proses pendidikan dan kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah hingga akhirnya memasuki perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana.
"Setelah mahasiswa menjadi sarjana seperti kalian, cari kerja. Setelah bekerja, bukan hanya mengenal anak tangga, tetapi mencoba berumah tangga. Nah, itulah proses dalam hidup kita dengan menelusuri anak tangga," tuturnya.
Namun, menurut Hamdan, filosofi "sarjana anak tangga" tidak hanya berbicara mengenai tahapan kehidupan. Lebih jauh, anak tangga merupakan simbol dari banyaknya orang yang berjasa mengantarkan seseorang hingga mencapai keberhasilan.
Ia meminta para wisudawan tidak melupakan kontribusi orang-orang yang selama ini mungkin tidak selalu terlihat dalam pencapaian mereka.
"Betapa banyak orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita yang berupa anak-anak tangga itu," katanya.
Hamdan menyebut orang tua sebagai "anak tangga" pertama yang paling utama dalam perjalanan kehidupan seseorang. Orang tua, kata dia, telah berjuang membiayai, mendidik, dan menopang anak-anak hingga mampu mencapai jenjang pendidikan tinggi.
"Pastinya anak tangga yang pertama adalah orang tua kita, ibu kita, ayah kita yang berjibaku membiayai kita," ungkapnya.
Selain orang tua, terdapat keluarga, guru, dosen, serta orang-orang lain yang turut memberikan kontribusi dalam perjalanan hidup para wisudawan.
"Anak tangga berikutnya keluarga dekat kita, guru kita, dosen kita, atau siapa pun dalam hidup ini yang telah berkontribusi dalam pencapaian kita dalam hidup kita, tapi bisa saja kita abaikan atau terlupakan," lanjut Hamdan.
Karena itu, ia mengajak para sarjana yang baru dikukuhkan untuk tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi setelah meninggalkan kampus. Mereka juga harus memiliki kesadaran untuk menghargai dan mengingat pihak-pihak yang telah membantu mereka sampai di titik tersebut.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Hamdan bahkan mengajak para wisudawan terlibat langsung dalam sebuah permainan peran di hadapan peserta wisuda.
Ia meminta tiga orang wisudawan menjadi relawan untuk mempraktikkan makna "sarjana anak tangga" yang disampaikannya.
"Siapa yang ingin menjadi relawan tiga orang. Kita coba bermain peran tentang bagaimana menjadi sarjana anak tangga," ujar Hamdan.
Pesan tersebut menjadi refleksi bagi 750 wisudawan UIN Alauddin Makassar agar gelar akademik yang diraih tidak membuat mereka lupa bahwa keberhasilan selalu dibangun dari perjuangan, proses, dan dukungan banyak orang. (Jr)
