Oleh: Muh. Iqbal Tawakkal
Membangun masa depan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Makassar adalah perjalanan membina manusia, menempa karakter, menanamkan rasa tanggung jawab, dan memupuk jiwa kepemimpinan yang melayani. Setiap zaman membawa tantangannya sendiri, dan setiap generasi memikul tanggung jawab untuk menjawabnya.
Di tengah laju perubahan dunia yang semakin cepat, pelajar hari ini dituntut untuk tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kompas moral dan arah hidup yang jelas. Di sinilah IPM hadir, bukan sekadar sebagai wahana berorganisasi, melainkan sebagai wadah pembinaan karakter untuk membentuk insan yang bermanfaat dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Kota Makassar, dengan segala dinamika dan kekayaan budayanya, menyediakan ekosistem yang subur bagi tumbuh kembangnya generasi muda yang tangguh. Semangat pelajar Makassar yang aktif dan kreatif menemukan pijakannya pada nilai-nilai luhur setempat, khususnya Siri’ na Pacce. Nilai Siri’ membentuk integritas dan kehormatan diri, mendorong seseorang untuk senantiasa menjaga martabat serta bertindak secara jujur.
Sementara itu, nilai Pacce menumbuhkan empati mendalam dan kepedulian sosial terhadap penderitaan sesama. Kedua nilai ini berpadu erat dengan pandangan hidup Sibawa-sibawaki (kebersamaan). Dalam konteks IPM Makassar, semangat kolektivitas ini menegaskan bahwa perubahan dan pencapaian organisasi tidak pernah lahir dari kerja individu semata, melainkan dari gotong royong dan soliditas seluruh kader.
Namun, potensi budaya yang besar tidak akan bermakna tanpa kepemimpinan yang berorientasi pada dampak nyata. Kepemimpinan yang berdampak tidak diukur dari jabatan struktural, melainkan dari sejauh mana seorang kader mampu menghadirkan pengaruh positif bagi lingkungannya. Pemimpin yang berdampak adalah mereka yang memiliki kejujuran (lempu’), bersikap proporsional dan bijaksana (mappasitinaja), serta bekerja dengan niat yang tulus. Tanpa kejujuran, tidak ada kepercayaan dan tanpa kepercayaan, kepemimpinan akan kehilangan maknanya.
Di era digital yang sarat akan arus informasi dan disrupsi media sosial, tantangan kepemimpinan semakin kompleks. Pemimpin pelajar dituntut untuk tidak larut dalam arus pencarian popularitas semata, melainkan mampu mengarahkan teknologi sebagai sarana edukasi, menginspirasi, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Kepemimpinan berdampak di era ini berarti mampu memanfaatkan media untuk memberi manfaat, bukan sekadar menampilkan eksistensi.
Kepemimpinan yang sejati juga diwujudkan melalui aksi konkret yang konsisten, mulai dari saling membantu dalam belajar, mengajak pada kebaikan, hingga berkontribusi aktif dalam kegiatan sosial masyarakat. Di situlah nilai Siri’ dan Pacce hidup dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana.
Jika setiap kader IPM Makassar memahami bahwa kepemimpinan adalah sebuah pengabdian, maka organisasi ini tidak akan pernah kehilangan arah. IPM Makassar tidak hanya akan dikenal sebagai organisasi pelajar, melainkan sebagai gerakan moral dan sosial yang membawa manfaat nyata bagi sekolah, masyarakat, dan daerah. Pada akhirnya, kepemimpinan yang berdampak bukanlah tentang panggung yang dinaiki atau nama yang ditinggalkan, melainkan tentang jejak kebaikan dan cahaya nilai yang terus dihidupkan untuk generasi pelajar berkemajuan. (*)
