Oleh: Hasrullah
Kelas: Ik4b
Saya merasa ibur sekolah tahun ini rasanya sangat berbeda dari libur sekolah pada tahun sebelumnya itu karena adanya berita yang bolak balik muncul di media sosial maupun di plaform pemberitaan lainnya terkait program Makan Bergizi Gratis yang sempat diberhentikan sementara selama masa libur sekolah, mulai 22 juni sampai 13 juli 2026 gara gara Badan Gizi Nasional mau dibenahi Kembali tata kelolanya pasca kasus korupsi yang menyeret mantan kepala BGN Dadan Hindayana. Program yang merupakan program andalan pemenrintahan Prabowo justru menjadi program ladang masalah. Dari saya berfikir bahwa sebenarnya program ini untuk membantu masyarkat atau sebaliknya?
Kalau dilihat kacamata pribadi saya MBG ini merupakan kebijakan yang secara niat sudah benar akan tetapi dari segi pelaksanaannya masih jauh dari kata benar yang sepatutnya program ini perlu diatur dan dipikir terkait efektivitas pelaksanannya dilapangan karena jangan sampai MBG ini hanya sekedar program untuk menuntaskan janji kampanye saja bukan betul-betul program yang dipersiapkan secara matang apalagi kalua dilihat dari segi keuangan yang dikeluarkan tentunya tidak sebanding dengan manfaatnya.
Pertama, yang membuat saya sangat bertanya adalah soal besarnya anggaran yang terus berubah-ubah dan tidak konsisten tanpa memikirkan apa dampaknya. Awalnya pemerintah mengalokasikan sebesar Rp335 Triliun untuk 2026, tapi tak lama kemudian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungumunkan anggarannya dipangkas jadi hanya sebesar Rp268 Triliun dengan alasan demi menjaga deficit APBN tetap aman. Saat ini 27 ribu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di indonesia. Tentunya angka angka ini bukan merupakan angka yang kecil kalua angka anggaran seperti itu tidak dapat diawasi dengan rapi dan jujur tidak menutup kemungkinan kebocoran dan pemborosan jadi akan selalu ada jika ini terjadi siapa yang rugi tentunya masyarakat lagi.
Kemudian kedua, ini menurut saya yang paling miris keracungan yang terjadi dilapangan yang mengancam keselamatan anak-anak bukan lagi sesuatu hal yang baru bagi Masyarakat jadi ini merupakan program kebermanfaatan anak-anak atau program ancaman untuk anak-anak?. Tidak berhenti disitu bahkan program ini memberikan gebrakan baru dengan adanya kendaaraaan pengantar MBG yang menerobos masuk sampai menabrak siswa dan guru di sebuah SD di Jakarta utara yang menjadi viral. Pertanyaannya ini bukan lagi tentang apakah anak-anak sudah terpenuhi gizi-nya akan tetapi apakah anak-anak dapat dijamin keselamatannya dari program MBG ini.
Ketiga, apalagi kalau kita berbicara persoalan evektivitas sasaran program justru BGN sendiri mengaku bahwa sebaran dapur MBG menumpuk di kota-kota besar dan Kawasan yang gampang dijangkau dan secara ekonomi lumayan baik sedangkan wilayah 3 T alias tertinggal, terdepan dan terluar justru belum tersentu secara maksimal padahal program makan bergizi di sekolah paling efektif justru kalua menyasar ke wilayah yang benar-benar kekurangan secara akses pangan dan ekonomi karena dampaknya terhadap siswa dan penurunan stunting dapat lebih dirasakan daripada di daerah perkotaan yang gizi masyarakatnya dominan sudah lebih baik.
Dan ironisnya BGN sampai harus menerapkan penundaan pembangunan dapur baru supaya bisa menata ulang sebaran ini, sehingga dapat dilihat bahwa perencanaan awal dari program ini memang belum siap secara pelaksanaannya.
Kalau ditanya kenapa ini penting untuk diketahui oleh masyarakat awam khususnya maka jawabannya sederhana uang yang dipakai untuk dihambur-hamburkan di program ini adalah uang pajak kita semua yang sasarannya justru anak-anak yang terancam keselamatannya dan para pelaku korup yang memanfaatkan celah yang ada.
Sehinga yang seperlunya dilakukan oleh pemerintah adalah agar senantiasa memprioritaskan audit rutin dan transparan di setiap SPPG bukan kerja sama untuk melakukan kecurangan dan audit dadakan jika hanya setelah ada skandal. Dan juga alih-alih terus menambah dapur secara massif lebih baik dana dialihkan dulu untuk memperbaiki dapur yang sudah ada dan kurang layak agar standar keamanan pangannya benar benar terjamiin karena percuma dapur banyak tapi kualitas kurang. Kemudian sasaran ke wilayah 3T harus menjadi prioritas nyata, bukan hanya sekedar omon-omon di siaran pers karena disitulah dampak dari MBG ini betul-betul dibutuhkan.
Sehingga pada akhirnya MBG ini menjadi sebuah pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup kalua perencanaan dan pelaksanaannya masih amburadul.
Program sebesar ini butuh keberanian pemerintah untuk mengakui setiap kekurangan yang ada dan telah dirasakan oleh Masyarakat dan selalu memberikan perbaikan bukan hanya sekadar membantah setiap tudingan yang ada dengan isi batahan yang salah pula yang membuat masyarakat makin geram. Kalua tujuan daripada program ini untuk benar-benar membuat anak-anak menjadi sehat maka yang perlu diperbaiki bukan cuman menunya tapi juga kepercayaan public yang senantiasa menyertainya.(*)
