Makassar, Gasingpedia.com – Konflik internal, tata kelola yang buruk, hingga ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi sejumlah faktor yang menyebabkan perguruan tinggi swasta (PTS) kehilangan daya saing, meredup, bahkan beralih pengelola.
Hal tersebut diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX, Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.MedEd, saat menghadiri Wisuda Program Diploma, Sarjana, Profesi, dan Magister ke-70 Universitas Bosowa (Unibos) serta Wisuda ke-11 Politeknik Bosowa di Balai Sidang Unibos, Senin (19/10).
Prof Budu mengatakan, berdasarkan evaluasinya terhadap perkembangan perguruan tinggi di wilayah kerja LLDIKTI IX, terdapat sejumlah kampus yang sebelumnya beroperasi dan memiliki mahasiswa, tetapi kini tidak lagi berkembang. Bahkan, beberapa di antaranya telah mengajukan pengalihan pengelolaan kepada pihak lain.
Menurutnya, persoalan internal menjadi salah satu penyebab utama kemunduran perguruan tinggi. Perselisihan antara yayasan dan pengelola universitas, termasuk masalah tata kelola, dapat menghambat keberlangsungan institusi pendidikan tinggi.
"Yang paling utama adalah karena adanya dinamika internal. Pengelola, baik yayasan maupun pengelola universitas, bahkan hal-hal yang terkait dengan sistem tata kelola internal, itu yang paling banyak," ungkap Guru Besar Unhas ini.
Ia menilai, konflik internal yang tidak diselesaikan secara baik dapat mengganggu stabilitas organisasi dan menghambat pengembangan institusi. Padahal, perguruan tinggi membutuhkan tata kelola yang kuat agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan pendidikan.
Faktor kedua, kata dia, adalah ketidakpatuhan terhadap ketentuan dan standar yang ditetapkan pemerintah. Perguruan tinggi yang kerap melakukan pelanggaran administrasi maupun mengabaikan standar penyelenggaraan pendidikan berisiko mengalami hambatan dalam pengembangan institusi.
Sebagai perpanjangan tangan kementerian, LLDIKTI memiliki tugas mengoordinasikan perguruan tinggi swasta di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Kepatuhan terhadap regulasi, lanjut Prof Budu, berpengaruh terhadap berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan tinggi, termasuk pengelolaan data di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), pengajuan kenaikan jabatan akademik dosen, hingga akses terhadap program bantuan pemerintah.
"Perguruan tinggi yang tidak taat asas, banyak melakukan pelanggaran dan kesalahan, serta menjalankan sistem di luar standar kementerian, akan menghadapi persoalan dalam pengembangannya," jelasnya.
Penyebab ketiga adalah ketidakmampuan perguruan tinggi bertransformasi dan beradaptasi dengan perkembangan global. Menurut Prof Budu, sejumlah kampus masih mempertahankan program studi yang sama tanpa mengevaluasi kebutuhan pasar maupun perubahan minat calon mahasiswa.
Padahal, perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk terus melakukan pembaruan.
Ia menyoroti pengelolaan program studi yang hanya berorientasi pada pemenuhan status akreditasi, tanpa diikuti inovasi dan strategi pengembangan yang berkelanjutan.
"Perguruan tinggi swasta yang tidak transformatif, tidak adaptif, dan tidak mengikuti perkembangan global, hanya menjalankan program studi begitu-begitu saja. Padahal, mereka sudah tahu peminatnya mulai menurun, tetapi pengelolaannya tetap seperti itu. Itu yang kemudian pelan-pelan redup," tegasnya.
Di sisi lain, Prof Budu juga mengungkapkan sejumlah karakteristik perguruan tinggi yang mampu berkembang pesat. Salah satunya adalah memiliki sistem tata kelola yang kuat dan terus melakukan pengembangan kelembagaan.
Ia menjelaskan, perkembangan perguruan tinggi dapat dilihat dari transformasi institusi, mulai dari akademi menjadi sekolah tinggi, kemudian politeknik, hingga berkembang menjadi universitas dengan bidang keilmuan yang lebih luas.
Transformasi tersebut menunjukkan kemampuan institusi memperluas cakupan pendidikan sekaligus merespons kebutuhan masyarakat.
"Yang cepat melesat itu adalah perguruan tinggi yang memiliki tata kelola kuat, besar, dan berkembang. Tata kelolanya terus berkembang," ujarnya.
Selain pengembangan kelembagaan, pertumbuhan jumlah dan jenjang program studi juga menjadi indikator kemajuan. Perguruan tinggi yang awalnya hanya menyelenggarakan program sarjana (S1), misalnya, kemudian memperluas bidang pendidikan dan membuka program magister (S2) hingga doktoral (S3).
Menurutnya, langkah tersebut perlu dibarengi perencanaan yang matang agar pengembangan program studi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Prof Budu mencontohkan Universitas Bosowa yang dinilainya terus menunjukkan perkembangan sejak berdiri pada 1985 hingga saat ini.
Ia mengapresiasi dukungan yayasan dan Bosowa Group dalam mendorong pengembangan Unibos sebagai salah satu perguruan tinggi besar di kawasan Indonesia Timur.
"Saya kira sudah tidak tepat lagi kalau dikatakan Bosowa hanya sebagai universitas besar di Makassar. Universitas Bosowa bahkan merupakan salah satu universitas besar di Indonesia Timur dan sudah dikenal di Indonesia," tuturnya.
Lebih lanjut, Prof Budu mengingatkan pengelola perguruan tinggi agar tidak sekadar menambah program studi, tetapi juga mengevaluasi relevansi bidang keilmuan yang ditawarkan.
Ia menilai, program studi yang memiliki kesamaan bidang dapat dipertimbangkan untuk digabungkan. Sementara program studi yang mengalami penurunan peminat perlu dievaluasi, termasuk melalui pembaruan kurikulum maupun penyesuaian nama dan fokus keilmuan.
Menurutnya, generasi muda saat ini semakin mempertimbangkan relevansi program studi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pekerjaan masa depan.
Karena itu, perguruan tinggi perlu menghadirkan program studi yang lebih adaptif dan inovatif, seperti teknologi finansial atau financial technology (fintech), kedokteran forensik, hukum digital, hingga agribisnis.
"Di era global ini, peminat perguruan tinggi, termasuk generasi Z, tidak lagi hanya melihat nama program studinya. Yang penting program studi itu adaptif dan transformatif," katanya.
Ia menegaskan, perguruan tinggi harus mampu membaca perubahan dan berani melakukan pembaruan agar tidak tertinggal dalam persaingan.
Prof Budu berharap Universitas Bosowa dapat terus memperkuat tata kelola, memperluas pengembangan akademik, serta menghadirkan program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurutnya, keberlanjutan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh besarnya institusi, tetapi juga kemampuan pengelola menjaga tata kelola, mematuhi regulasi, dan berinovasi mengikuti perkembangan global. (Jr)
