Oleh: Ahmad Azhar Mawardi
Bayangkan ini: Seorang anak berjalan kaki menyusuri jalan becek, membawa tas sobek berisi satu buku tulis dan pensil yang tinggal setengah. Ia tiba di sebuah bangunan reyot, beratap seng bocor dan berdinding papan rapuh. Di sanalah ia belajar, mencoba menghafal Pancasila sambil menahan panas dan debu.
Bukan cerita tahun 1970-an. Ini terjadi hari ini, di SDN 408 Ongkoe, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Sekolah ini viral karena kondisinya lebih mirip setting film Laskar Pelangi daripada sekolah abad 21. Bedanya, film itu berakhir bahagia. Yang ini belum tentu.
Tahun ini sudah bisa sekolah dengan tablet, mendaftar lewat aplikasi, bahkan merancang kurikulum merdeka. Tapi di sudut lain Sulawesi Selatan, sekelompok anak masih belajar di bangunan yang lebih mirip kandang daripada ruang kelas. Lantainya tanah, atapnya seng bocor, dan dindingnya dari kayu seadanya.
Tak ada laboratorium, tak ada proyektor. Bahkan kursi dan papan tulis pun terlihat seperti sisa peninggalan zaman sebelum otonomi daerah.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah gencarnya klaim “revolusi pendidikan” dari pemerintah pusat dan daerah.
Ketika Retorika Pendidikan Tak Sampai ke Pinggiran
Pemerintah pusat dan daerah berlomba bicara soal digitalisasi, kurikulum merdeka, transformasi pendidikan.
Tapi bagi anak-anak di Ongkoe, transformasi terbesar mungkin hanya jika atap sekolah mereka tak lagi bocor. Retorika tak membangun tembok. Janji tak bisa menambal dinding kayu yang jebol.
Laskar Pelangi, 2025: Babak Baru dari Kisah Lama
Kisah sekolah SDN 408 Ongkoe mengingatkan kita bahwa ketimpangan pendidikan bukan cerita masa lalu. Ia nyata, menyedihkan, dan terus terjadi—di tengah gemerlap proyek-proyek infrastruktur yang katanya “prioritas rakyat”.
Sekolah itu bukan sekadar ruang kelas—ia adalah tempat lahirnya mimpi. Dan ketika negara membiarkan mimpi itu lapuk dimakan rayap, maka kita bukan hanya gagal membangun sekolah—kita gagal membangun masa depan.
Pendidikan Tak Butuh Kamera, Butuh Kepedulian Nyata
Apakah sekolah harus viral dulu agar diperbaiki? Apakah anak-anak miskin harus tampil menyentuh dulu agar dianggap penting?
Kalau jawabannya “ya”, maka kita bukan sedang membangun bangsa, kita sedang mempermalukan diri sendiri.
Tugas Pemerintah Bukan Hanya Melihat, Tapi Menjamin
Pendidikan bukan soal proyek dan kunjungan kerja. Ini soal keadilan yang bisa disentuh oleh anak-anak di titik paling jauh dari pusat kekuasaan.
Jika sebuah daerah bisa menganggarkan dana miliaran untuk pengadaan mobil dinas, maka tidak ada alasan satu pun sekolah dibiarkan seperti gubuk.
Menteri, gubernur, bupati—jangan tunggu sekolah roboh baru kirim bantuan. Jangan tunggu anak putus sekolah baru turun tangan.
Bukan Sekadar Simpati, Tapi Aksi
– Audit Infrastruktur Sekolah di Daerah Terpencil: Pemerintah daerah bersama dinas pendidikan harus segera melakukan audit fisik menyeluruh untuk mendata kondisi sekolah, terutama di pelosok seperti Ongkoe. Data ini harus transparan dan dipublikasikan ke masyarakat.
– Realokasi Anggaran Daerah untuk Perbaikan Sekolah Prioritas: Pangkas anggaran seremonial dan pengadaan barang-barang mewah untuk dialihkan ke pembangunan gedung sekolah darurat, minimal hingga layak pakai.
– Program Adopsi Sekolah: Libatkan BUMN, BUMD, dan sektor swasta untuk mengadopsi sekolah-sekolah dalam kondisi kritis melalui program CSR yang konkret—bukan sekadar “bagi-bagi buku” saat perayaan Hari Pendidikan.
– Keterlibatan Komunitas Lokal: Beri ruang dan dukungan kepada komunitas, relawan, dan organisasi nirlaba untuk membantu pembangunan sekolah, tanpa belenggu birokrasi berbelit.
– Monitoring Progres Secara Terbuka: Buat dashboard publik berbasis digital yang memperlihatkan progres renovasi sekolah-sekolah rusak secara real-time, agar semua warga bisa ikut mengawasi.
Negara Tak Boleh Gagal
Anak-anak di Ongkoe punya mimpi, sama seperti anak-anak di kota besar. Mereka hanya butuh satu hal: Negara yang hadir lebih dulu, bukan setelah mereka viral.
Karena saat negara abai terhadap pendidikan yang layak, yang roboh bukan hanya sekolah yang roboh adalah harapan.



